Pages

Selasa, 11 November 2014

SOP MEMASANG DINDING BATU BATA DENGAN PERKUATAN ANGKU

SOP MEMASANG DINDING BATU BATA DENGAN PERKUATAN ANGKUR


Pasangan batu bata adalah kumpulan batu bata yang disusun dan disatukan
dengan menggunakan adukan mortar sebagai bahan perekat, sehingga
membentuk konstruksi pada bagian bangunan tertentu. Salah satu komponen
bangunan yang biasa dibuat dari pasangan batu bata adalah dinding. Pada
bangunan sederhana (rumah tinggal dan bangunan sederhana satu lantai
lainnya), dinding berfungsi sebagai komponen struktur untuk menyangga
beban-beban bangunan yang ada di atasnya dan sekaligus berfungsi sebagai
partisi (pembatas/penyekat antar ruangan). Pada bangunan gedung ber-
tingkat, umumnya struktur utama berupa struktur rangka/portal yang dibuat
dari material beton bertulang atau baja, sedangkan tembok hanya berfungsi
sebagai penyekat/partisi.
Pasangan dinding batu bata, menurut ketebalannya, dapat dibedakan
menjadi: pasangan setengah batu, pasangan satu batu, dan pasangan satu
setengah batu. Dalam perkembangannya, pasangan satu batu dan satu
setengah batu tidak lagi digunakan, karena beberapa alasan mendasar, di
antaranya:
a. Pada bangunan modern, dinding lebih difungsikan sebagai
partisi/penyekat dan bukan struktur utama yang menahan beban
b. Pekerjaan rumit, butuh waktu lebih lama, dan biaya konstruksi mahal.
c. Pasangan batu bata bersifat getas, dan pasangan satu batu maupun satu
setengah batu sangat berat, sehingga akan membahayakan jika terjadi
gempa bumi.
d. Bangunan tahan gempa harus bersifat ringan dan daktail, sehingga
perkuatan beton bertulang menjadi kunci utama dan bukan pada ketebalan
dindingnya.
Atas dasar alasan-alasan di atas, pembahasan dalam modul ini hanya
ditekankan pada pasangan setengah batu dengan perkuatan rangka beton
bertulang untuk bangunan tahan gempa.
2. Dinding bangunan sederhana tahan gempa
Unsur-unsur pembentuk pasangan dinding/tembok terdiri dari:
a. bahan pengisi pasangan, yang dapat berupa bata merah, batako ataupun
bataton.
b. bahan perekat pasangan (mortar 1 : 4), yang merupakan campuran antara
air, pasir, semen, dan bahan tambah, jika diperlukan.
Bata yang ideal mempunyai ukuran 6 x 12 x 24 cm, tetapi bata yang sekarang
diproduksi mempunyai ukuran yang lebih kecil. Untuk mengetahui kekuatan
bata dapat dilakukan pengujian secara sederhana, yaitu dengan cara sebagai
berikut: Sebuah bata diletakkan di atas dua bata yang lain (setiap bata
penumpu menahan ± ¼ panjang bata yang diuji), sehingga ± ½ panjang bata
yang diuji menjadi bebas (tidak tertumpu), kemudian dipijak dengan satu
telapak kaki orang dewasa. Apabila bata pecah, maka kualitasnya tidak baik.
Selain itu, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
a. Mempunyai bentuk yang persegi, lurus, dan seragam.
b. Dibakar pada suhu yang tepat, sehingga secara visual terlihat berwarna
merah tua.
c. Tidak retak dan tidak cacat (tidak sompel).
d. Tahan bila direndam.
Pada daerah rawan gempa, agar diperoleh hasil pasangan dinding yang
memenuhi kualifikasi teknis dan estetis, perlu diperhatikan syarat
ikatan/susunan batu bata berikut:
a. Hubungan batu bata dibuat sesederhana mungkin agar mudah
dilaksanakan.
b. Menghindari penggunaan batu bata yang ukurannya kurang dari setengah
batu bata utuh.
c. Tidak boleh ada siar tegak yang segaris lurus untuk dua lapisan berturut-
turut atau lebih (idealnya terdapat selisih setengah bata untuk antar lapis).
d. Siar tegak dan datar harus benar-benar lurus.
e. Seluruh siar terisi penuh adukan.
f. Tebal siar minimum 8 mm, maksimum 15 mm, dengan ketebalan siar yang
ideal berkisar 10 mm.
g. Adukan siar yang digunakan dibuat dengan komposisi perbandingan
volume 1 semen : 4 pasir, yang diaduk dengan ½ air (jika pasir dalam
kondisi jenuh kering muka)
h. Setiap luasan maksimum 9 m
2
harus diperkuat/dibingkai dalam struktur
rangka (balok dan kolom).
Gambar 1. Konsep perkuatan dinding dengan rangka beton bertulang
i. Dinding bata dan kolom disatukan dengan angkur berdiameter minimum
10 mm dengan panjang penyaluran/tertanam di setiap bagian minimal 40
cm.
j. Hasil akhir permukaan dinding rata dan tegak.
Angkur yang telah dibentuk, siap untuk digunakan dalam tahap pemasangan
dinding batu bata. Pemasangan angkur sebagai perkuatan hubungan dinding
tembok dengan kolom dapat dilakukan dengan cara berikut:
a. Tembok dipasang terlebih dahulu, sehingga angkur dapat diletakkan
secara langsung di atas setiap 6 (enam) lapis pasangan batu bata, dan
menembus rangkaian tulangan kolom yang belum dicor. Apabila pasangan
dinding batu bata telah mencapai ketinggian yang diinginkan, selanjutnya
sisi muka dan belakang kolom ditutup dengan bekisting dan dilakukan
pengecoran.
b. Rangkaian tulangan kolom disiapkan dan dipasang dalam bekisting sesuai
dengan gambar kerja. Selanjutnya sisi-sisi bekisting yang akan dipasang
angkur, diukur dan dilubangi/dibor, kemudian dilakukan pengecoran.
Setelah 14 hari, bekisting dibuka, dan dilanjutkan dengan pemasangan
dinding batu bata.
c. Pada proyek berskala besar ataupun pada kasus perbaikan bangunan
yang telah ada (existing structures), yang dilaksanakan dengan peralatan
yang memadai, pemasangan angkur dapat juga dilakukan pada kolom
yang telah selesai proses pembetonannya. Kolom beton bertulang
dilubangi/dibor (pengeboran harus dilakukan dengan cermat dan dihindari
kerusakan pada tulangan terpasang), kemudian dilanjutkan dengan
pemasangan dinding batu bata. Cara ini sangat jarang dilaksanakan,
karena selain memerlukan peralatan yang memadai, juga harus dilakukan
dengan teliti, agar selama pengeboran tidak mengenai baja tulangan, dan
tidak merusak/mengurangi kekuatan lekatan antara baja tulangan dengan
beton di sekelilingnya.
3. Tata cara pelaksanaan pekerjaan
Untuk memperoleh hasil pekerjaan yang optimal dan memenuhi standar
teknis, pada dinding batu bata yang sedang dikerjakan (konstruksi baru), perlu
dipersiapkan alat dan bahan sebgai berikut:
a. Alat:
1) Waterpass
2) Benang
3) Unting-unting
4) Siku rangka
5) Meteran
6) Profil
7) Sendok spesi
8) Pensil
9) Pemotong bata
10)Palu
11)Bak spesi
12)Ember/sekop
13)Cangkul
b. Bahan:
1) Batu bata (memenuhi syarat seperti dijelaskan sebelumnya).
2) Angkur terbuat dari baja tulangan diameter 10 mm sampai 12 mm
(kondisi baik, tidak berkarat, tidak berminyak, bukan besi bekas).
3) Semen (PC kemasan 50 kg atau PPC kemasan 40 kg, tidak mengeras,
kering, warna seragam).
4) Pasir (berasal dari sungai/darat, tidak mengandung lumpur dan bahan
organik).
5) Air (layak minum, tidak berasa, tidak berwarna, tidak berbau).
c. Langkah kerja:
1) Persiapan pekerjaan
a) Mempelajari gambar kerja.
b) Mengenakan pakaian serta perlengkapan kerja lainnya.
c) Membuat adukan dengan komposisi 1 semen : 4 pasir, yang diaduk
dengan ½ air (jika pasir dalam kondisi jenuh kering muka),
kemudian meletakkannya dalam kotak spesi.
d) Mempersiapkan alat dan batu bata yang diperlukan, sebaiknya bata
direndam terlebih dahulu, agar tidak terlalu kering dan tidak
menyerap air spesi sehingga diperoleh kekuatan lekat yang baik.
e) Menentukan dan mengatur tata letak pekerjaan dengan tujuan:
(i) Menghindari kecelakaan kerja
(ii) Tersedianya ruang gerak yang cukup leluasa saat bekerja
(iii)Meningkatkan produktivitas
(iv)Menghindari tercecernya material yang bisa mengakibatkan
pemborosan
(v) Menambah semangat kerja
2. Pelaksanaan pemasangan batu bata
Agar diperoleh hasil pasangan bata yang baik, dalam memasang satu buah
batu bata diusahakan cukup hanya sekali mengambil dan meletakkan
adukan/spesi. Cara meletakkan batu bata didorong mendatar seperti pesawat
terbang mendarat, sehingga ujung batu bata akan mendorong adukan dan
akhirnya mengisi siar tegak. Cara ini memerlukan sendok yang cukup
panjang, dan sebaiknya digunakan sendok spesi segitiga. Langkah kerja
pemasangan batu bata, sebagai pasangan dinding untuk rumah dan
bangunan tahan gempa, adalah sebagai berikut:
a. Mempersiapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan
mudah dijangkau.
b. Menentukan ukuran pekerjaan dan memasang profil (terbuat dari kaso 5/7
cm) di luar kedua ujung pasangan sejauh 50 cm, dan tegakkan profil
dengan menggunakan unting-unting
c. Mengukur ketinggian lapis pertama pasangan dinding dengan pedoman
elevasi sloof dan lantai di bawahnya dengan selang plastik berisi air atau
water pass.
d. Menentukan ketebalan setiap lapis
pasangan bata dengan
memperhitungkan tebal bata dan siar.
e. Memberikan tanda untuk setiap ketinggian lapisan pasangan bata, dari
lapis ke-1 sampai ke-20, pada kedua profil yang telah dipasang.
f. Merentangkan benang dan mengikat pada tanda elevasi di kedua profil
g. Memasang lapisan batu bata dengan mengontrol kelurusan ke arah
horisontal dan ketegakan ke arah vertikal pada setiap lapisannya.
h. Memindahkan benang ke tanda elevasi lapis kedua, setelah lapis pertama
selesai, dan melakukan pemasangan selanjutnya.
i. Memasang angkur dengan panjang penyaluran/tertanam minimal 40 cm,
setiap 6 lapis batu bata pada bidang dinding.
j. Mengulangi langkah-langkah pemasangan di atas sampai pekerjaan
selesai.
k. Membersihkan ruang kerja dari adukan yang tercecer, cucilah alat dan
kembalikan ke tempat semula.
3. Perawatan pasangan batu bata
Untuk mecapai hasil yang optimal, selama proses pengerasan bahan adukan
diperlukan kelembaban yang memadai. Oleh sebab itu, perlu dilakukan
perawatan dengan menyiram dinding secara berkala selama minimal 7
sampai 14 hari.
4. Tata cara pemasangan bataton (Hollow Concrete Block)
Selain batu bata, material lain yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk
komponen dinding adalah bataton (bata terbuat dari beton). Untuk
memperoleh kualitas bangunan yang baik, harus digunakan bataton yang
memenuhi standar, tidak mudah retak dan pecah. Di samping itu, juga perlu
diperhatikan cara pemasangan bataton yang diperkuat dengan penulangan
arah vertikal dan horisontal sebagai berikut:
a. Memasang lapisan mortar setebal 1 cm di atas permukaan sloof.
b. Melubangi dasar blok beton (bataton) dan menempatkannya dalam posisi
terbalik (lubang bataton menghadap ke bawah) di atas sloof, dengan
melewati besi tulangan kolom dan besi tulangan dinding di sebelahnya.
Rongga-rongga dari blok tersebut diisi dengabeton dan kemudian
dipadatkan.
c. Pada bagian sudut bataton, setiap 2 (dua) lapis bataton dipasang angkur
berdiameter 8 mm.
d. Pemasangan blok-blok bataton dilanjutkan sampai ke kolom dari ujung
dinding yang lain. Proses pemasangan dilanjutkan dengan cara yang
sama dengan proses pada butir c di atas.
e. Untuk lapisan kedua dari blok-blok pembentuk dinding, pertama-tama
diberi lapisan mortar setebal 1 cm di atas Iapisan pertama, kemudian
memasukkan lagi sebuah blok sudut melewati besi tulangan vertikal, tetapi
sekarang posisinya diputar 90o
f. Untuk setiap lapisan ke-4 (empat), dipasang 1 besi tulangan berdiameter 8
mm, dari satu ujung dinding ke ujung dinding yang lain, dan mengkaitkan
tulangan horisontal tersebut ke tulangan vertikal pada kolom-kolom
dengan cara penyambungan sesuai gambar. Agar praktis, sebaiknya
angkur berdiameter 8 mm tersebut disambung di tengah dinding, dan
saling berimpitan sepanjang 350 mm.
g. Setelah lapisan kesembilan, harus dilakukan penyambungan bagian paling
atas dari tulangan vertikal dengan bagian paling bawahnya. Untuk itu,
harus dibuat sebuah perancah yang ketinggiannya diatur mengikuti
kemajuan pekerjaan pemasangan dinding.
h. Pada puncak dinding harus dipasang balok atas (ring balk) dengan 4 besi
tulangan berdiameter 8 mm. Tulangan vertikal dari dinding dan kolom-
kolom harus dibuat saling berhubungan serta bersambungan dengan
tulangan horizontal dari balok atas. Beton yang dituang ke dalam balok
atas harus diratakan dan dihaluskan.
Gambar 7. Pemasangan bagian atas dinding bataton
i. Sebelum adukan beton dituang ke dalam balok atas, angkur-angkur yang
akan dipakai untuk memasang/ mengikat rangka atap kayu terlebih dahulu
ditempatkan, sesuai posisi yang direncanakan dalam gambar kerja.
5. Kesehatan dan keselamatan kerja
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menjamin kesehatan dan keselamatan
kerja antara lain:
  1. Memakai pakaian kerja dengan lengkap dan benar
b. Membersihkan tempat kerja dari kotoran yang mengganggu.
c. Menempatkan alat-alat dan bahan-bahan di tempat yang mudah dijangkau
dan aman untuk mendapatkan ruang kerja yang ideal.
d. Menggunakan alat sesuai dengan fungsinya.
e. Tinggi pasangan dinding yang dikerjakan maksimum 1 meter agar tidak
roboh.
f. Menggunakan perancah/steger yang cukup kokoh untuk pemasangan
dinding yang lebih tinggi.
g. Tidak memegang spesi dan terlalu sering mencuci tangan saat bekerja
memasang bata, karena dapat mengakibatkan iritasi pada kulit telapak
tangan.

0 komentar:

Posting Komentar